Ruwat Bumi, Guci, Kabupaten Tegal

  2419 kali  

Ruwat Bumi, Guci, Kabupaten TegalRuwat Bumi merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan warga Desa Guci dan desa sekitarnya. Tradisi ini rutin yang dilakukan pada bulan Muharram bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga memohon keselamatan dar segala macam mara bahaya. Menurut Ki Enthus Susmono, tradisi ini bukan tradisi syirik, namun tradisi untuk merawat bumi.

Tidak hanya gunungan hasil bumi yang wajib dihadirkan, namun juga ada prosesi untuk memandikan kambing kendit (kambing yang berwarna hitam dan putih) di Pancuran 13 oleh bupati dan tokoh masyarakat. Ritual ini sebagai simbol kasih saying terhadap makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan kambingnya sendiri merupakan simbol dari kehidupan yang akan terus berputar. Tak lupa kembang setaman juga ditaburkan pada pemandian ini.

Setelah prosesi memandikan kambing, dilanjutkan dengan upacara dan pembacaan riwayat Guci oleh petugas. Dan harus menggunakan Bahasa Tegalan. Unik bukan?? Tak lupa ada beberapa sambutan-sambutan dan yang terakhir adalah rebutan gunungan, do’a bersama dan hiburan-hiburan lainnya yang biasanya diisi dengan tarian khas Tegal.

Acara ini rutin dilakukan warga dengan bekerjasama dengan pengelola Wisata Air Panas Guci, jadi acara ini juga ikut dipromosikan sebagai agenda wisata budaya kebanggan warga sekitar pada khususnya, dan warga Kabupaten Tegal pada umumnya. Karena hampir setiap tahunnya, acara ini selalu dipadati wisatawan baik lokal, maupun dari luar daerah. Sedangkan waktu pelaksanaanya, disesuaikan dengan keadaan pada saat itu.

Ruwat Bumi juga sebagai sarana untuk mendongkrak minat wisatawan agar kembali berwisata di Guci. Terlebih pada waktu sekarang, karena kekhawatiran wisatawan karena status Gunung Slamet. Sehingga, melalui acara ini juga bisa sebagai ajang sosialisasi bahwa Pemandian Air Panas Guci masih aman untuk didatangi.






comments powered by Disqus